Jerusalem – The Holy Land for Islam, Christian, and Jewish

Sebagai seorang muslim, dari kecil saya diajarkan bahwa sesungguhnya ada tiga mesjid suci di muka bumi ini, Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Akan tetapi, mengunjungi Masjidil Aqsha adalah hal yang tidak mudah bagi pemegang paspor Indonesia, karena negara kami tidak punya hubungan diplomatik dengan Palestina/Israel. Keputusan untuk pergi mengunjungi Baitul Maqdis bisa dibilang sedikit nekat, karena saya belum tahu bagaimana cara mendapatkan visa untuk masuk ke negara tersebut. Tapi saya selalu percaya Tuhan itu Maha Baik dan sayang sama saya, jadi Insya Allah akan ada jalan untuk mewujudkan mimpi melaksanakan bucket list no.2: Sholat di Masjidil Aqsha.

Rute untuk masuk ke Palestina/Israel adalah melewati perbatasan Jordan. Alternatif lainnya adalah melewati perbatasan Mesir tetapi itu tidak mungkin dilakukan karena kondisi keamanan yang tidak kondusif. Info mengenai visa baru saya dapatkan hanya 2 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Adalah Mas Ahmad Fuadi dan Mba Danya Dewanti yang memberikan nama travel agent yang bisa mengurus visa, tour, dan akomodasi selama disana. Karena kondisi keamanan dan politik, WN Indonesia tidak bisa traveling secara mandiri kesana, bahkan untuk booking hotel online pun tidak bisa, semua harus melalui travel agent. Setelah hampir satu bulan menunggu, visa akhirnya diberikan oleh Pemerintah Israel hanya satu hari menjelang tanggal keberangkatan.

Flight itinerary yang dipilih adalah Jakarta – Kuala Lumpur – Amman, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Queen Alila International Airport menuju King Hussein Bridge selama +/- 1.5 jam. King Hussein bridge adalah pintu masuk menuju border area di wilayah Jordan dan pintu masuk ke teritori Israel adalah Allenby bridge. Kekuatan doa dan keberuntungan sangat mempengaruhi proses imigrasi di perbatasan Jordan – Israel. Sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu berapa lama anda akan berada dalam border area tersebut, bisa 2 jam, bahkan ada yang mencapai 5 jam, karena ada 5 security check point yang harus anda lewati. Proses menyeberang dari Jordan ke Israel bisa dibilang heroik, karena supir yang menjemput kami di bandara hanya mengantar sampai pintu masuk di King Hussein Bridge. Jadi tinggal saya dan teman saya (Ayu), bersama para turis lainnya, mengikuti proses imigrasi paling melelahkan di muka bumi. Setelah sampai di Immigration Office King Hussein Bridge, kita diwajibkan mengisi formulir yang kemudian diserahkan kembali ke petugas bersama paspor. Kami harus menunggu satu jam untuk menunggu jadwal shuttle berikutnya yang akan membawa kami menyeberang border area. Ongkos shuttle adalah 7.5 USD/pax dan 1.5 USD jika membawa koper. Paspor akan diserahkan kembali oleh petugas saat sudah berada di bus. Sesaat sebelum meninggalkan King Hussein Bridge, paspor akan diperiksa dan formulir yang sebelumnya telah diisi akan diserahkan ke petugas (check point#1). Sesampainya di immigration office di Allenby bridge, paspor akan kembali diperiksa dan diberi sticker (check point#2). Selanjutnya adalah pemeriksaan x-ray (check point#3). Proses berikutnya adalah interview (check point#4), dimana petugas akan menanyakan secara detail mengenai tujuan, itinerary, sampai tempat tinggal selama di Jerusalem. Jika sedang tidak beruntung, petugas akan bertanya mengenai silsilah keluarga, mulai dari nama bapak, ibu, kakek, dan nenek. Petugas akan memberikan ID Card jika lolos dari pemeriksaan. ID Card tersebut harus selalu dibawa kemanapun kita pergi dan tidak boleh hilang selama berada di Israel. Sebelum meninggalkan immigration office, paspor akan dikembali diperiksa (check point#5). Jika petugas di check point#5 merasa anda berbahaya, ID card anda bisa ditarik dan anda harus mengulang proses interview. Mungkin prosesnya terlihat seperti proses imigrasi biasa, tapi dengan para tentara Israel yang berkeliaran dengan senapan ditangan, rasanya jadi berbeda. Pada saat kami berhasil keluar dari immigration office tanpa halangan berarti dan akhirnya menginjakkan kaki di bumi Palestina, saya hanya bisa mengucapkan syukur Alhamdulillah. Berhasil! Berhasil!

Dari Allenby bridge, kami langsung menuju kota Jericho yang terletak dekat Jordan River di wilayah tepi barat. Sejak tahun 1967, kota ini dibawah teritori Israel setelah direbut dari pemerintah Jordan. Dan setelah tahun 1994, secara administratif, Jericho berada dibawah teritori Palestina. Jericho diklaim sebagai salah satu kota tertua di dunia yang berusia 10,000 tahun.

Hisham Palace adalah satu tempat yang wajib dikunjungi di Jericho. Reruntuhan istana musim dingin yang dibangun Hisham bin Abdul Malek. Restorasinya terhenti karena terkendala biaya karena setelah perjanjian damai Israel – Palestina, semua izin untuk membangun harus disetujui oleh Pemerintah Israel. Awalnya pemerintah Turki ikut mendanai restorasi peninggalan bersejarah bagi dunia islam ini. Patung-patung yang ada di Hisham palace bahkan sudah diangkut ke Museum Rockefeller di Jerusalem.

Selanjutnya adalah Mount of Temptation yaitu tempat yang diyakini umat Kristiani sebagai tempat dimana Jesus Christ digoda oleh setan. Puncak Mount of Temptation bisa dicapai dengan menggunakan cable car. Sebelum ke Jerusalem, kami menyempatkan sholat di maqam Nabi Musa. Sebenarnya ini hanya tempat simbolis/monumen karena tidak ada yang tahu dimana sebenarnya Nabi Musa dimakamkan. Setelah menempuh 1 jam perjalanan dari Jericho, akhirnya kami sampai di Jerusalem, kota suci untuk tiga agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Mount Olives yang terletak di pinggir kota Jerusalem adalah tempat yang tepat untuk melihat megahnya Dome of The Rock, yang berada didalam Old City of Jerusalem.

Keesokan harinya kami menuju Hebron untuk mengunjungi Al Haram Al Ibraihimi Al Khalil. Hebron berada dalam teritori Palestina dan merupakan wilayah suci bagi umat Islam dan Yahudi karena kota yang menjadi ibukota Israel sebelum Jerusalem, adalah tempat dimakamkannya Nabi Ibrahim beserta keluarganya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ishak, dan Nabi Yaqub. Awalnya mesjid ini adalah tempat ibadah bagi umat islam hingga pada tahun 1994, tentara Israel menyerbu masuk ke dalam mesjid pada saat sholat subuh. Sekitar 30 orang meninggal dan 150 orang lainnya luka. Sejak saat itu mesjid ini dibagi dua area, dimana area yang terdapat makam Nabi Yaqub tidak boleh dimasuki oleh umat muslim. Penjagaan super ketat terlihat saat memasuki kawasan masjid. Pemerintah Turki melalui PM Erdogan adalah salah satu negara yang secara terang-terangan memberikan bantuan untuk biaya pemeliharaan mesjid. Dan kami beruntung bisa melihat pembagian makanan bagi orang yang tidak mampu yang merupakan kegiatan rutin setiap hari jumat.

Selanjutnya kami menuju Betlehem, tepatnya Gereja Naptivity yang merupakan gereja tertua di dunia. Betlehem adalah tempat yang diyakini umat Kristiani sebagai tempat lahirnya Jesus Christ. Umat Kristiani di Betlehem terbagi 3 yaitu Greek, Armenian dan Catholic. Dekorasi Gereja Naptivity sangat dipengaruhi oleh aliran ortodoks yang bisa dilihat dari ornamen-ornamen lampunya. Saat ini, gereja dalam renovasi yang dibantu pembiayaannya oleh pemerintah Italia.

Old City Jerusalem adalah tujuan berikutnya. Masih ingat kan kalau saya selalu yakin bahwa Tuhan itu Maha Baik? Saya selalu berdoa supaya Tuhan memberikan kesempatan untuk bisa sholat di Masjidil Aqsha sebelum saya meninggal. Tetapi ternyata Tuhan memberikan karunia yang lebih, saya diberikan kesempatan untuk bisa sholat di hari yang dimuliakan oleh umat islam yaitu Sholat Jumat. Ada keharuan yang menyeruak saat saya mengucapkan Allahu Akbar di rakaat pertama sholat Jumat. Rasanya tidak bisa dideskripsikan, hanya bisa dirasakan.

Masjidil Aqsha adalah suatu komplek seluas 120 acre yang terletak didalam Old City of Jerusalem. Ada 4 bagian atau quarter dalam komplek Old City Jerusalem, yaitu Moslem Quarter, Jewish Quarter, Christian Quarter dan Armenian Quarter. Ada perbedaan signifikan antara Moslem Quarter dengan quarter yang lain. Moslem Quarter terlihat kumuh dan kotor, semrawut dan kondisi bangunannya sudah rapuh. Berbeda dengan quarter lain yang tampak bersih dengan bangunan yang sangat terawat. Gate terdekat untuk memasuki Masjidil Aqsha adalah Damascus Gate. Ada 2 security check point yang harus dilewati sebelum memasuki kompleks mesjid. Hal ini menimbulkan pertanyaaan bagi saya karena mesjid adalah tempat ibadah umat islam, kenapa harus dijaga oleh tentara Israel?

Didalam kompleks Masjidil Aqsha terdapat 2 mesjid, yaitu Mesjid Qabili dan Dome of the Rock. Sesungguhnya pahala yang didapatkan saat sholat di lokasi manapun didalam kompleks Aqsha adalah sama, karena pada dasarnya tidak ada yang tahu dimana lokasi pasti Nabi Muhammad SAW pergi ke langit ketujuh saat peristiwa Isra Mi’raj. Dome of the rock dibangun sebagai tanda titik tertinggi di dalam wilayah kompleks Masjidil Aqsha. Didalam Dome of the rock, terdapat gua yang diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW melakukan sholat bersama 22 nabi muslim lainnya. Didalam kompleks Aqsha juga terdapat masjid al buraq yang merupakan monumen sebagai tanda peristiwa Isra Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Lokasi wudhu bagi wanita terletak didekat pintu masuk atau sekitar 500m dari mesjid dan setiap wanita wajib memakai rok atau jubah setiap kali memasuki komplek masjid. Untuk kegiatan sholat jumat, hanya pria yang bisa sholat di Mesjid Qabili, sedangkan wanita ditempatkan di Dome of The Rock.
Saya sempat menitikkan air mata saat memasuki Dome of the rock dan Masjid Qabili. Akhirnya saya bisa memujudkan mimpi untuk sholat di Baitul Maqdis. Tuhan memang Maha Baik!
Dibawah Mesjid Qabili adalah perpustakaan dengan koleksi buku-buku Islam yang sangat berharga. Disini juga terdapat sumur yang memperlihatkan proses penggalian bawah tanah yang dilakukan pihak Israel. Proses penggalian dimulai dari kawasan Jewish Quarter, tepat di depan Tembok Ratapan. Tujuannya penggalian ini untuk mencari kitab Nabi Sulaiman yang dipercaya disembunyikan dibawah kompleks Masjidil Aqsha dan juga untuk menghancurkan Masjid Qabili dan Dome of the rock. Karena bangsa Yahudi percaya tembok ratapan seharusnya berada di dalam kompleks Aqsha.

Saya selalu percaya kuasa Tuhan melebihi apapun yang ada di dunia ini dan saya kembali membuktikannya saat melihat kondisi 2 mesjid didalam kompleks Aqsha. Kedua mesjid ini dalam kondisi memprihatinkan, struktur bangunannya sudah rapuh, dan proses renovasi tidak kunjung selesai karena semua dibawah kendali Israel. Saat ini, hanya ada 12 pekerja yang diizinkan untuk memperbaiki mesjid. Dengan minimnya pasokan bahan bangunan dan biaya, hanya Tuhan yang tahu kapan renovasi akan selesai. Akan tetapi, sampai detik ini, kedua mesjid ini masih tegak berdiri. Tuhan Maha Menjaga!

Persis disamping Moslem Quarter adalah Jewish Quarter, tempat dimana Tembok Ratapan berada. Hanya kaum Yahudi yang bisa memasuki kawasan Tembok Ratapan. Non Yahudi bisa melihat Tembok Ratapan dari jembatan yang terletak di sebelah kanan tembok. Disamping Moslem Quarter adalah Christian Quarter. Di dalam wilayah ini terdapat Church of Holy Sepulchre yang diyakini oleh umat Nasrani sebagai tempat disalibnya Jesus Christ. Wilayah selanjutnya adalah Armenian Quarter. Umat Nasrani meyakini bahwa Bunda Maria atau Siti Maryam dimakamkan disini. Selain di Jerusalem, ada banyak tempat di dunia ini yang diyakini sebagai makam beliau, contohnya Turki. Selain itu, makam Nabi Daud juga terletak di wilayah ini. Sebelum agresi Israel, wilayah ini adalah kawasan muslim.

Keesokan harinya bertepatan dengan hari yang disucikan oleh bangsa Yahudi yaitu hari sabtu atau biasa disebut Sabbath Day. Di hari itu, orang Yahudi dilarang melakukan kegiatan mulai dari saat tenggelamnya matahari di hari jumat sampai tenggelamnya matahari di hari sabtu. Saat Sabbath Day, semua transportasi umum berhenti beroperasi. Untuk menjaga kesucian Sabbath Day, di gedung-gedung perkantoran atau hotel, ada lift khusus untuk Sabbath Day, dimana orang yang menggunakan lift tersebut tidak perlu menekan tombol lantai tujuan karena lift tersebut otomatis berhenti di tiap lantai.

Hari berikutnya kami kembali menyebrang ke Amman melalui Allenby bridge – King Hussein bridge. Prosesnya hampir sama dengan kedatangan, hanya saja kita diharuskan membayar 57 USD sebagai border tax. Setelah melewati pemeriksaan paspor, kami menunggu shuttle bus. Selama menyebrang border, paspor akan ditahan oleh supir bus dan akan diberikan kembali saat di gedung imigrasi di sisi Jordan. Sebelumnya, kami diwajibkan membayar 7 USD + 1.5 USD sebagai biaya shuttle bus dan koper.

Behind the story:

  • Rute perjalanan kali ini adalah Indonesia – Palestina/Israel – Jordan – Mesir. Tiket Cairo – Jakarta dibeli 2 minggu sebelum Kudeta Mesir 2013. Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja saat saya mengunjungi Mesir.
  • Mata uang yang berlaku di Israel/Palestina adalah NIS atau Israeli Shekel. 1 NIS = IDR 3500
  • Living cost di Jerusalem sangat tinggi. Sebagai referensi, satu porsi makan siang yang sederhana harganya sekitar IDR 150,000 (belum termasuk minum). Bahkan cinderamata pun harganya selangit, 1 magnet kulkas bisa dikenakan harga 10 NIS atau IDR 35,000

The Facts:

  • Setelah perjanjian damai antara Israel – Palestina di tahun 1994, ada beberapa wilayah yang walaupun masuk teritori Palestina tetap berada dalam pengawasan Israel. Pasokan air, listrik, makanan dan minuman diawasi dan diatur oleh Israel. Jika dianggap berbahaya bagi Israel, semua pasokan untuk kelangsungan hidup bisa distop oleh Israel.
  • Wilayah Israel dan Palestina dibagi 3 wilayah yaitu wilayah Palestine, mix, dan Israel. Palestinian yang ingin pergi ke wilayah mix atau Israel harus mengajukan izin kepada pemerintah Israel. Akan tetapi Israeli bisa sesuka hati pergi ke wilayah Palestina.
  • Palestinian yang tinggal di wilayah mix seperti Jerusalem, tidak tercatat menjadi warga suatu negara manapun. Karenanya, jika mereka ingin bepergian keluar negeri (seperti naik haji atau umroh), mereka harus mengajukan izin ke pemerintah Jordan.
  • Jika Ramallah adalah kota pemerintahan untuk Palestina, Hebron adalah pusat bisnis. Dengan sumber daya alam dan manusia, Hebron termasuk salah satu kota mandiri yang bisa bertahan karena perekonomian yang kuat.
  • Saat ini ada sekitar 500 warga Yahudi dan 2000 tentara Israel yang tinggal di Hebron. Jadi setiap Israeli akan dijaga oleh 4 tentara Israel.
  • Sepanjang Jerusalem – Hebron banyak terlihat settlement atau pemukiman warga Yahudi yang dibangun oleh Israel didalam wilayah Palestina. Jumlahnya semakin banyak seperti terlihat dalam peta. Tujuan dibangunnya settlement adalah untuk mengurangi wilayah kependudukan Palestina secara perlahan. Rakyat Palestina tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini karena tentara Israel menggunakan persenjataan yang lengkap untuk mengusir mereka dari rumah.
  • Untuk memasuki wilayah Israel, rakyat Palestina harus memarkir kendaraan mereka sebelum pintu masuk wilayah dan menggunakan bus. Hal ini tidak berlaku sebaliknya karena rakyat Israel bisa memasuki wilayah Palestina tanpa ada syarat tertentu. Oleh karenanya proses pemeriksaan untuk memasuki Hebron dari Jerusalem tidak sesulit seperti perjalanan pulang dari Hebron ke Jerusalem.
  • Rakyat Palestina yang bekerja di Jerusalem hanya mempunyai izin untuk memasuki kota Jerusalem dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore sebagai working permit. Karenanya mereka sudah harus mengantri masuk Jerusalem sejak jam 4 pagi setiap hari. Jika telat masuk/keluar dari/ke Jerusalem, mereka harus membayar denda sebagai sanksi pertama, sanksi kedua adalah dipenjara selama sebulan dan sanksi ketiga berupa penjara selama 3 tahun
  • Salah satu isi dari perjanjian damai Israel – Palestina tahun 1994 adalah melarang Palestina mempunyai tentara dan segala aspek militer (darat, laut, dan udara) dikuasai oleh Israel.
  • Gaza adalah the biggest concentration camp in the world. Semua aspek kehidupan rakyat Palestina berada dalam pengawasan Israel. Pasokan makanan, minuman, listrik, air, dan segala kebutuhan dikontrol oleh Israel. Dan hampir sekitar 90% terowongan yang dibangun antara Mesir dan Gaza, telah dihancurkan oleh Israel. Terowongan itu digunakan untuk memasok kebutuhan hidup rakyat Palestina. Tujuannya hanya untuk membuat Hamas menyerah dan keluar dari Gaza. Yes, it happens in 21st century.
  • Pesan singkat dari tour guide kami sebelum sholat jumat: If you heard any of bomb or shooting, please stay inside the mosque. *baiklah* *pasrah* — Sering terjadi kerusuhan saat sholat jumat karena seluruh rakyat Palestina berusaha masuk ke kompleks Masjidil Aqsha akan tetapi sering kali dibatasi oleh tentara Israel yang menjaga pintu masuk kompleks mesjid.
  • Saat perayaan Paskah April 2014, ribuan rakyat Palestina rela tidur didalam mesjid untuk menjaga kompleks Aqsha karena Israel berencana menggunakan kompleks Aqsha sebagai tempat perayaan paskah
  • Rakyat Palestina yang mengganti kewarganegaraan menjadi Israel tetap mendapatkan perlakuan diskriminasi karena mereka berasal dari bangsa Arab.
  • Permusuhan antara bangsa Yahudi dan Arab sudah dimulai dari jaman Nabi Ibrahim. Karena Nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW, berasal dari garis keturunan Nabi Ismail AS yang merupakan anak dari seorang budak, bukan berasal dari garis keturunan Nabi Ishak AS yang merupakan anak dari Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim AS.
  • Pertentangan agama antara Islam, Kristen dan Yahudi begitu kentara, terlihat dari diskriminasi perdagangan. Jika anda adalah seorang muslim dan belanja di toko Yahudi/Kristen, harga yang diberikan oleh pemilik toko akan jauh lebih tinggi. Dan begitu juga sebaliknya. Contoh: teman saya membeli air mineral seharga 3 NIS di toko seorang muslim. Sebelum membayar, dia ditanya apakah dia seorang muslim atau bukan, karena jika bukan, harganya adalah 5 NIS.
  • Hal ini juga berlaku dalam hal bantu-membantu. Supir yang mengantarkan kami dari hotel ke border untuk menyebrang kembali ke Amman, rela mengantarkan kami menukar uang NIS ke money changer yang berada di wilayah Palestina, karena dia adalah seorang muslim dan dia merasa setiap muslim wajib membantu saudaranya.
  • Mungkin hanya kami berdua yang dimintai tips oleh petugas luggage di border area. Petugas tersebut adalah seorang Israeli.
  • Jangan bayangkan kawasan old city Jerusalem seperti Mekkah atau Madinah yang selalu ramai 24 jam. Hari terakhir saya di Jerusalem, saya menyempatkan untuk sholat Isya di Masjidil Aqsha. Selesai sholat jam 9.30 malam, semua toko-toko di dalam kawasan old city semuanya sudah tutup, hanya ada tentara Israel yang sedang patroli jam malam
  • Rakyat Palestina yang tinggal di Jerusalem ada yang memilih tidak memiliki paspor atau berpaspor Israel untuk kemudahan masuk ke dalam wilayah old city Jerusalem. Konsekuensi bagi rakyat Palestina yang berpaspor Israel adalah mereka tidak akan bisa melakukan ibadah umroh/haji seumur hidup mereka. Keikhlasan yang tinggi tersebut didasarkan pada alasan untuk menjaga Masjidil Aqsha tetap berdiri (saya sukses menangis saat mendengar alasan ini).

Traveling Tips:

  • Sebaiknya tidak menyebutkan Palestina/Israel sebagai tujuan perjalanan karena akan menimbulkan pertanyaan pada saat flight check in menuju Amman. Mulai dari tujuan kesana (holiday/study), bagaimana cara kesana, tinggal dimana, sampai apakah punya return ticket.
  • Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya menggunakan satu airlines dari departure country sampai tempat tujuan dan tetaplah tinggal di kota/negara yang sama selama 1-2 hari sebelum pindah ke kota/negara selanjutnya. (see epic story#3)

Epic story:

  • Jakarta sudah waktunya punya MRT dari pusat kota ke bandara. Kami baru bisa check in untuk penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur hanya 15 menit sebelum counter check in tutup. Rasanya sudah campur aduk karena semua yang telah direncanakan bisa berantakan hanya karena kemacetan Jakarta yang sudah diluar akal sehat. Pada saat itu, teman saya terjebak dalam 3 jam kemacetan antara Sudirman – Bandara Soekarno Hatta
  • Karena alasan ekonomis, kami memilih dua maskapai yang berbeda untuk sampai ke Amman. Rute Jakarta – Kuala Lumpur sedikit menimbulkan kepanikan karena airlines yang kami pilih punya track record delay yang tinggi dan transit time ke penerbangan selanjutnya sekitar 3.5 jam. Alhamdulillah saat itu, airlines tersebut hanya delay 45 menit. Rute berikutnya adalah Kuala Lumpur – Amman dengan transit di Abu Dhabi. Karena masalah turbulensi, kami hanya punya transit time sekitar 1.5 jam. Rasanya mungkin seperti sedang berada dalam kompetisi Amazing Race.
  • Travel disaster kami dimulai di Queen Alila International Airport di Amman. Awalnya semua baik-baik saja, kami disambut oleh petugas travel agent untuk proses imigrasi. Setelah menunggu hampir 30 menit, koper kami tidak pernah keluar dari conveyer belt. Tampaknya Etihad tidak sempat memindahkan koper kami saat transit di Abu Dhabi. Karena peraturan visa yang ketat, kami harus menyeberang border Jordan – Israel di hari itu juga. Kami tidak punya pilihan untuk tinggal di Amman selama 1-2 hari menunggu koper datang. Petugas airport yang tidak kooperatif menambah sakit di kepala karena tidak ada kepastian kapan kami akan menerima koper. Mereka juga memberitahu bahwa koper tidak bisa diantar sampai ke hotel di Jerusalem karena Uni Emirat Arab tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Jadi koper kami akan diterbangkan ke Bandara Tel Aviv melalui Royal Jordanian Airlines. Situasi semakin kacau karena travel agent berpendapat bahwa Etihad bertanggung jawab untuk mengantar koper sampai ke hotel. Karena sebagai pemegang paspor Indonesia, kami tidak bisa memasuki Bandara Tel Aviv. Supir dan tour guide kami adalah Palestinian, yang juga tidak bisa masuk Bandara Tel Aviv. Jadi siapa yang akan mengambil koper kami di Tel Aviv? Sekitar jam 5 sore, kami baru di informasikan kalau koper kami akan mendarat di Tel Aviv jam 10 malam. Dan setelah bernegosiasi cukup alot, akhirnya travel agent mengirimkan supir taxi untuk mengantarkan kami ke Tel Aviv dengan catatan kami harus membayar ongkos taxi sebesar 175 USD (bahkan harga koper kami lebih murah dari ongkos taxi). Setelah menempuh perjalanan 1 jam dari Jerusalem, kami sampai di bandara sekitar jam 10 malam. Disana kami dapat informasi jika bagian Lost&Found hanya beroperasi sampai jam 8 malam. Kebayang kan rasanya? Beruntung, supir kami adalah seorang Israeli bernama Asher yang berusia 71 tahun yang sangat pintar bernegosiasi dengan petugas bandara, dan setelah melewati 2x security check point dan interview dengan tentara israel dan petugas bandara, akhirnya kami bisa mendapatkan koper tepat tengah malam. Lifetime experience: Mungkin hanya kami orang Indonesia yang bisa memasuki Bandara Ben Guiron di Tel Aviv (karena pemegang paspor Indonesia hanya bisa masuk Israel lewat perbatasan Jordan).
  • Karena insiden delay baggage, proses imigrasi kami hanya memakan waktu 2-3 jam. Biasanya ada pemeriksaan bagasi yang super ketat oleh para tentara Israel. Cerita paling seru datang dari seorang laki-laki berusia 35 tahun. Dia warga negara Inggris yang paspornya penuh dengan stempel dari negara-negara muslim karena hobi travelingnya. Dia menghabiskan waktu selama 6 jam untuk interview. Ayahnya adalah seorang businessman yang ternyata pernah dinas ke Jerusalem selama beberapa bulan. Dan secara kebetulan, dia akan tinggal di hotel yang sama dengan hotel yang pernah ditinggali Ayahnya. Dan ajaibnya petugas imigrasi Israel bisa mengetahui hal tersebut padahal ia sendiri tidak pernah tahu kalau Ayahnya pernah ke Jerusalem sekitar 5 tahun yang lalu.

Perjalanan ke Baitul Maqdis mungkin hanya sekitar 4 hari tapi telah mengubah pola pikir dan pandangan saya tentang kehidupan beragama. Saya dilahirkan dalam keluarga yang plural, baik agama ataupun suku. Dan saya sangat bersyukur bahwa di Indonesia, semua itu tidak menjadi halangan untuk hidup dalam kerukunan. Saya selalu diajarkan kalau pada dasarnya semua manusia itu sama dimata Tuhan, yang membedakan adalah amal ibadahnya. Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan dan hidayah masing-masing. Tidak ada yang berhak mencap seseorang itu buruk hanya karena dia memilih agama yang berbeda atau bahkan beragama yang sama tapi memilih jalan yang berbeda dalam menjalankan ibadahnya. Bahkan Nabi Muhammad SAW saja tidak berani memasuki ranah yang sesungguhnya hanya menjadi otoritas Tuhan. Karena Islam sesungguhnya adalah agama yang membawa rahmat bagi alam semesta, rahmatan lil’alamin. Islam adalah agama yang selalu mengajarkan toleransi, kesabaran dan keikhlasan.

Sesungguhnya adalah hal yang miris, karena disaat umat muslim di Indonesia masih memperdebatkan segala perbedaan yang ada, disini di tanah suci Palestina, ada segelintir umat manusia yang sedang berjuang, rela menjadi martir, demi tetap berdirinya agama Islam, tetap berdirinya Masjidil Aqsha di tanah suci Palestina.

Alangkahnya indahnya jika kita meletakkan semua perbedaan, meruntuhkan semua tembok yang mengkotak-kotakan umat Islam, dan yakin bahwa Islam adalah pemersatu keberagaman umat manusia menuju ketauhidan Tuhan, seperti yang tertera dalam surah Al Ikhlas ayat 1: Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa”

*Untuk rakyat Palestina, terima kasih atas pengalaman hidup yang berharga*

#PrayForPalestine

More stories are illustrated in my web album “An Illustrated Journey”

13 thoughts on “Jerusalem – The Holy Land for Islam, Christian, and Jewish

  1. hallo mbak,

    blognya sangat inspiratif sekali,
    kami berencana travelling ke jordan juli nanti untuk 10 hari.
    setelah baca2 blog ini saya jadi kepikiran kalo memungkinkan untuk travelling ke israel untuk 3-4hr.

    mau tanya dong,
    kemaren pake tour di israel/palestina ato pake tour jordan?
    ada punya kontak infonya dan websitenya?
    berapa biaya untuk tournya?

    thanks
    amank
    http://www.neverstoptravelling.com

    1. Kmrn kita pake tour dr indonesia, soalnya indonesia ga pny hubungan diplomatik dgn israel jd sekalian buat urus visa. Tour ini kebetulan afiliasi dr tour di israel. Cb kontak mba cecilia 0812 94369777. Mereka sebenarnya adl tour untuk ziarah kristen tp bisa customized. Israel/ palestina itu mahal, kmrn udh hotel+tour sekitar 1200 usd per pax. Mgkn klo banyakan lebih murah kali ya. Coba aja diskusi dgn mba cecil

  2. Mba.. waktu di interview utk masuk israel.. pertanyaan apa yg imigrasi tanyakan. Ada hal tabukah yg hrs dihindari saat intv itu

  3. salam kenal mba amelia, terimakasih tulisannya bermanfaat sekali 🙂

    saat ini saya sedang kuliah di belanda, dan ada rencana untuk internship di palestine (ramallah atau nablus). apakah mba ada link website atau informasi terkait peraturan2 WNI kalo mau masuk wilayah palestine/israel? saya baru tau kalo ternyata gak bisa masuk lewat bandara Ben Guiron mba.. itu kenapa ga boleh ya? terus kalo untuk solo traveller kira-kira aman gak ya mba? :”

    1. Karena ga pny hubungan diplomatik dgn Israel, setiap WNI hanya bisa masuk lewat border Jordan, silahkan dibaca kembali tulisan saya. Aman ato ga, it’s depend on you, worrying gets you nowhere.

  4. Hallo mbak, saya baca tulusannya bisa masuk israel dari jordan tanpa group ya, saya sudah pernah je israel november 2016 kemarin dengan group umorroh, tetapi july ini saya sangat ingin kembali ke sana, tapi susah dapat group nya karena harus nyesuaikan jadwal, tolong mbak saya butuh informasi yang lebih detail soal visa masuk israel tanpa group, maksud saya saya hanya akan sendirian masuk israel , terimakasih banyak, semoga mbak bersedia membantu saya, mungkin bisa sharing pribadi dengan email,

    1. Waktu itu saya ngurus “visa” lewat agent yg biasa mengurus perjalanan rohani umat kristiani, namanya Ahalan tour and travel.
      Coba contact Mba Cecilia untuk info lebih lanjut, 081294369777
      Hope it helps

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s